Journal Pharmacopoeia https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia <p><!-- ######## This is a comment ######## --></p> <p style="text-align: justify;"><strong>Journal Pharmacopoeia (JPharmaco)</strong> E-ISSN: 2809-4573 is an official journal published by Pharmacy Program, Health Analyst Department, Health Polytechnic of Bengkulu which the articles can be accessed and downloaded online by the public (open access journal).</p> <p style="text-align: justify;">This journal is a national peer-reviewed journal published twice a year on topics of excellence of research results This journal accepts English texts. The following are the research areas that this journal focuses on</p> <ol style="text-align: justify;"> <li>Clinical Pharmacy</li> <li>Community Pharmacy</li> <li>Pharmaceutics</li> <li>Pharmaceutical Chemistry</li> <li>Pharmacognosy</li> <li>Phytochemistry</li> </ol> <p style="text-align: justify;">JPharmaco receives manuscripts from the results of research (research article), systematic reviews, and meta-analyses that are closely related to the health sector, particularly the pharmaceutical field. Selected manuscripts for publication in JPharmaco will be sent to two reviewers experts in their field who are not affiliated with the same institution as the author(s) and are chosen based on the consideration of the editorial team. The review process is conducted in a closed manner where the author(s) and reviewers do not know the identity and affiliation of each. Each manuscript delegated to editorial members is examined for the final decision of the review process. The author(s) are required to respond to the review given and send revised manuscripts within the allotted time after the comments and suggestions from the reviewers have been sent. Manuscripts accepted for publication are edited copies checked for grammar, punctuation, print style, and format. The entire process of submitting the manuscripts to the final decision for publishing is done online.</p> en-US jurnal.pharmacopoeia@gmail.com (Zamharira Muslim) jurnal.pharmacopoeia@gmail.com (Revi Noviansyah) Sat, 30 Mar 2024 12:53:27 +0000 OJS 3.3.0.8 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 FORMULASI DAN EVALUASI SIFAT FISIK SEDIAAN FACIAL WASH GEL EKSTRAK BUAH TOMAT (Solanum lycopersicum L.) DENGAN VARIASI CARBOPOL SEBAGAI GELLING AGENT https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/572 <p>Buah tomat <em>(Solanum lycopersicum </em>L<em>.)</em> mengandung zat tomatin yang bersifat sebagai anti inflamasi serta antibakteri sehingga dapat menyembuhkan jerawat. Buah tomat juga mengandung metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. <em>Facial wash</em> gel merupakan salah satu sediaan yang digunakan untuk mencuci muka. Basis gel yang sering digunakan adalah carbopol karena dengan konsentrasi kecil yaitu 0,5% - 2% dapat menghasilkan sediaan gel yang jernih dengan viskositas yang tinggi. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi carbopol sebagai gelling agent yang paling baik menghasilkan sediaan <em>facial wash</em> gel yang stabil dan memenuhi persyaratan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan zat aktif ekstrak buah tomat <em>(Solanum lycopersicum </em>L<em>.)</em> sebanyak 3 % yang dihasilkan melalui proses maserasi dengan variasi konsentrasi (formula I carbopol 1%, formula II, carbopol 1,5% , serta formula III carbopol 2% Lalu dilakukan uji evaluasi sifat fisik yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, uji daya lekat, uji daya busa dan uji iritasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh variasi konsentrasi dari carbopol sebagai gelling agent terhadap sifat fisik sediaan <em>facial wash</em> gel. Formula yang paling baik dalam menghasilkan sediaan facial wash gel yaitu formula III dengan konsentrasi carbopol sebesar 2% dilihat dari uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya lekat, uji daya busa dan uji iritasi yang sudah memenuhi persyaratan.</p> <p> </p> Ovinsa Rizki Wulandari, Nur Ermawati Copyright (c) 2024 Journal Pharmacopoeia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/572 Sat, 30 Mar 2024 00:00:00 +0000 FORMULASI SEDIAAN SABUN PADAT EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/578 <p>Papaya skin (<em>Carica papaya</em> L.) has antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria and Escherichia coli bacteria. This research aims to find out whether papaya peel extract can be formulated into solid soap. Solid soap preparations were made in 4 formulas with F0 (formula 0) as the base and the addition of papaya peel extract at Fl (formula 1) 3.5 g, FII (formula 2) 7 g, and FIII (formula 3) 10.5 g. The formulated solid soap preparation is subjected to physical evaluation including organoleptic, pH, foam height tests, water and free alkali content. The research results showed that all formulas met the requirements except for the water and free alkali content tests which did not meet the requirements because they still exceeded the maximum limit for free water &amp; alkali content set by SNI 2016.</p> Mega Yulia, Vanessa Liandri, Dwi Mulyani Copyright (c) 2024 Journal Pharmacopoeia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/578 Sat, 30 Mar 2024 00:00:00 +0000 IDENTIFIKASI RHODAMIN B PADA LIPSTIK YANG BEREDAR DI KOTA BENGKULU DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBEL https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/579 <p>The use of the dye rhodamine B as a color additive in cosmetics has been prohibited by the Regulation of the Head of the Food and Drug Monitoring Agency (BPOM) Number: HK.00.05.42.1018 concerning Additional Ingredients in Cosmetics, because rhodamine B has carcinogenic properties if used long term in the body. In this research, 10 lipstick samples were used purposively obtained from the market in Bengkulu City. Lipstick samples were selected based on the criteria that they did not meet BPOM distribution requirements. Determination of rhodamine B levels was carried out using the UV-Visible Spectrophotometry method. The maximum wavelength used in the identification of Rhodamine B is 554 nm. The test results of ten lipsticks showed that nine lipsticks contained rhodamine B, in lipsticks with codes L2, L3, L4, L5, L6, L7, L8, L9 and L10 with a percentage of 0.0058%-0.0242%, and only one sample that was identified negative, L1 with an absorbance value of 0.364 with a percentage of 0%. In this study it can be concluded that there were 9 samples of 10 lipstick samples that were identified as containing Rhodamine B quantitatively.</p> <p>&nbsp;</p> Suci Rahmawati, Dwi Retnowati, Oky Hermansyah, Samwilson Slamet Copyright (c) 2024 Journal Pharmacopoeia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/579 Sat, 30 Mar 2024 00:00:00 +0000 FORMULASI DAN UJI AKTIVITAS SEDIAAN DEODORANT SPRAY EKSTRAK ETANOL BUNGA KECOMBRANG (Etlingera elatior (Jack)) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/484 <p>Bunga kecombrang mengandung senyawa kimia seperti flavonoid, tanin, saponin, minyak atsiri, steroid, glikosida. Berdasarkan Senyawa-senyawa aktif tersebut yang mampu menghilangkan bau badan antara lain saponin, flavonoid, dan minyak atsiri. Deodoran adalah sediaan kosmetika yang mengandung antiseptik untuk menahan atau mengurangi dekomposisi bakteri sehingga bias mengontrol bau badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sediaan deodorant spray yang paling bagus pada variasi konsentrasi 10%, 20%, 30% dan aktivitas antibakteri pada sediaan deodorant spray. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental. Berdasarkan pengujian yang dilakukan pada masing-masing formula sediaan deodorant spray ekstrak etanol bunga kecombrang yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji kejernihan, uji iritasi dan uji aktivitas antibakteri memenuhi kriteria standar sebagai sediaan deodorant spray yang baik. Dari hasil penelitian yang dilakukan, formula yang paling baik dan memiliki nilai aktivitas antibakteri paling tinggi yaitu pada formula FIII (30%) dengan proteksi perlindungan maksimal. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak pada formula maka semakin meningkatkan nilai aktivitas antibakteri.</p> Desfi Rahmanda, Heti Rais Khasanah, Krisyanella Copyright (c) 2024 Journal Pharmacopoeia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/484 Sat, 30 Mar 2024 00:00:00 +0000 GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN STROKE ISKEMIK DI RSUD. Dr. M. YUNUS KOTA BENGKULU TAHUN 2022 https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/481 <p>Strokee iskemik adalah tanda klinis disfungsi atau kerusakan jaringan otak yang disebabkan kurangnya aliran darah ke otak sehingga mengganggu kebutuhan darah dan oksigen di otak. WHO mendefiniskan stroke merupakan suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala - gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. Tujuan penelitia ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan obat pada pasien stroke iskemik di RSUD Dr.M.Yunus kota bengkulu tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian non ekperimental dengan analisis deksriptif menggunakan data rekam medik yang dikumpulkan secara retrospektif. Penelitian dilaksanakan di bagian rekam medik RSUD Dr.M.Yunus Bengkulu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jenis obat yang paling banyak di gunakan pada pasien stroke iskemik adalah citicoline dengan persentase sebanyak (15,49%). Golongan farmakologi yang paling banyak digunakan adalah antihipertensi yaitu sebanyak (34,63%). <strong> </strong>Pada penelitian ini di dapatkan bahwa jenis obat yang paling banyak digunakan adalah citicoline yaitu sebanyak 68 (11,82%). Dan penggunaan golongan obat paling banyak adalah golongan Antihipertensi yaitu sebanyak 72 (100%).</p> <p> </p> Anggi Anggraini, Nadia Pudiarifanti, Zamharira Muslim Copyright (c) 2024 Journal Pharmacopoeia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/481 Sat, 30 Mar 2024 00:00:00 +0000 FORMULASI HAND BODY LOTION TABIR SURYA DARI EKSTRAK ETANOL RIMPANG JAHE MERAH ( Zingiber Officinale Var Rubrum Rhizoma ) DAN UJI NILAI SPF https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/480 <p>Rimpang tanaman jahe merah (<em>Zingiber officinale Roscoe</em>) merupakan salah satu tanaman efektif yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai tabir surya. Senyawa metabolit sekunder yang dapat berperan menjadi tabir surya diantaranya adalah flavonoid dan tannin. Tanin merupakan polifenol yang mempunyai aktivitas antioksidan kuat yang bisa melindungi kerusakan terhadap radikal bebas yang disebabkan karena paparan sinar UV, untuk senyawa fenolik khususnya golongan flavonoid juga mempunyai potensi sebagai tabir surya karena adanya gugus kromofor yang mampu menyerap sinar UV sehingga mengurangi intensitasnya pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar <em>Sun Protecting Factor</em> (SPF) pada <em>hand body lotion</em> dari ekstrak etanol Rimpang Jahe Merah (<em>Zingiber Officinale Var Rubrum Rhizoma</em>) dengan kosentrasi 1%, 2%, dan 3%. Metode yang digunakan adalah metode <em>eksperimental, </em>dimana bertujuan untuk menguji pengaruh suatu variabel terhadap variabel lain. Berdasarkan pengujian yang dilakukan pada masing-masing formula sediaan lotion ekstrak etanol jahe merah yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji PH, uji daya sebar, uji iritasi, uji viskositas, uji sentrifugasi, uji tipe sediaan, uji kesukaan dan penentuan nilai SPF memenuhi kriteria sebagai sediaan lotion tabir surya.lotion tabir surya ekstrak etanol jahe merah dapat disimpulkan bahwa sediaan memenuhi standar lotion yang baik. Nilai SPF pada formulasi FI sebesar (22,03). Formula FII sebesar (25,62) dan pada formula FIII sebesar (25,89). <strong>Kesimpulan :</strong> Dari hasil penelitian yang dilakukan, formula yang memiliki nilai SPF paling tinggi yaitu pada formula FIII dengan nilai SPF sebesar (25,89) dengan proteksi perlindungan ultra. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak pada formula maka semakin meningkatkan nilai SPF.</p> <p> </p> Azziyadatul Fadilah Lanas, Delta Baharyati, Resva Meinisasti Copyright (c) 2024 Journal Pharmacopoeia https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 https://ojs.poltekkesbengkulu.ac.id/index.php/pharmacopoeia/article/view/480 Sat, 30 Mar 2024 00:00:00 +0000